Views: 19
Solidernews.com – Adrian Arif Nugraha sosok pemuda difabel netra yang berdampak pada sesama dalam bidang teknologi dengan berinovasi mencptakan aplikasi Accessible CEFR Practice Pro” untuk belajar Bahasa Inggris. Inovasi yang diciptakan berasal dari keresahan bahwa kemajuan teknologi hari ini tidak serta merta disertai dengan kesadaran dari pengembang aplikasi untuk menciptakan inovasi yang dapat diakses oleh semua orang, termasuk difabel. Selain itu, ia juga memiliki keresahan bahwa belum semua difabel dapat menikmati kemajuan dan kemudahan teknologi digital.
Dalam wawancara bersama Solidernews melalui whatsapp pada 24 November 2025, Adrian memperkenalkan dirinya dengan sederhana dan penuh keyakinan.
“Halo, perkenalkan nama saya Adrian Arif Nugraha dari Bandung. Sedikit cerita tentang siapa saya, saya adalah seorang alumni dari Universitas Pendidikan Indonesia. Sebagai seorang penyandang disabilitas netra yang menghabiskan masa pendidikan dasar dan menengah di sekolah inklusi, saya merasakan betul dinamika belajar di tengah masyarakat yang beragam. Pengalaman inilah yang membentuk perspektif saya dalam melihat dunia teknologi.”
Pendidikan inklusi membentuk cara pandangnya tentang akses dan kesetaraan. Ia hidup dalam lingkungan sekolah yang beragam, namun tidak selalu sepenuhnya ramah terhadap kebutuhan siswa Netra. Tantangan inilah yang kemudian menumbuhkan kesadaran Adrian tentang pentingnya keterlibatan difabel dalam pengembangan teknologi.
Jika banyak inovator digital terinspirasi dari peluang pasar atau kompetisi komersial, Adrian justru memulai semuanya dari kebutuhan pribadi. Ia mengaku, motivasi awalnya membuat aplikasi tersebut bukan untuk publik.
“Jujur saja, motivasi awal saya membuat aplikasi ini sebenarnya sangat sederhana. Awalnya, saya hanya membuat aplikasi ini untuk kebutuhan belajar saya sendiri. Namun, ternyata ada teman yang melihat, mencoba, dan memberikan apresiasi. Dari situ, semangat saya terbakar untuk mengembangkannya lebih serius.”
Selain pengalaman tersebut, ada juga dorongan lain yang jauh lebih fundamental: keprihatinan terhadap kesenjangan akses teknologi bagi difabel netra.
“Saya melihat sebuah ironi. Di saat teknologi semakin maju, terkadang masih ada yang terlupa. Tidak semua kecanggihan itu bisa diakses oleh kami, para penyandang disabilitas. Seringkali programmer kurang paham soal aksesibilitas, atau mungkin karena kami tidak dilibatkan dalam pembuatannya. Karena itulah, saya ingin berkontribusi.”
Keinginan itu kemudian diwujudkan melalui aplikasi yang ia namakan Accessible CEFR Practice Pro — sebuah bentuk kontribusi kecil, namun bermakna besar.
Ketika ditanya bagaimana ia bisa mengembangkan aplikasi tersebut, Adrian menjawab dengan lugas. “Saya mulai belajar coding secara otodidak sejak saya masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Ya, sejak kecil saya sudah tertarik dengan dunia ini.”
Ketertarikan sejak dini ini menjadi fondasi yang kuat. Selama bertahun-tahun, ia belajar mandiri tanpa mengikuti pendidikan formal dalam bidang pemrograman. Dari hobi, ia berkembang menjadi kemampuan yang dapat menciptakan produk teknologi bermanfaat.
Dalam proses pengembangannya, Adrian mengerjakan semuanya sendiri, dari struktur, tampilan, hingga fitur suara.
“Dalam mengembangkan aplikasi ini, saya mengerjakannya sendiri secara mandiri. Saya membangunnya menggunakan bahasa pemrograman HTML Semantic dan JavaScript. Saya sengaja menggunakan HTML Semantic agar struktur kodenya mudah dikenali dan dibaca oleh teknologi pembaca layar. Selain itu, saya juga memanfaatkan teknologi seperti Tailwind CSS untuk tampilan dan Tone.js untuk fitur suaranya.”
Keputusan menggunakan HTML Semantic bukanlah hal yang umum bagi developer pemula. Namun bagi Adrian, itu adalah keputusan penting untuk memastikan aplikasinya terbaca sempurna oleh screen reader (red_pembaca layar). Pendekatan ini menunjukkan bahwa ia tidak hanya sekedar bisa koding, tetapi memahami prinsip dasar aksesibilitas digital.
Ketika ditanya apa yang membedakan aplikasinya dari aplikasi belajar Bahasa Inggris lain yang sudah beredar luas, Adrian menjawab:
“Perbedaan yang paling signifikan tentu saja ada pada aspek aksesibilitasnya. Aplikasi ini saya rancang agar sepenuhnya kompatibel dengan pembaca layar (screen reader), sesuatu yang jarang diprioritaskan aplikasi lain.”
Selain aksesibilitas,, Adrian juga telah memasukkan sekitar 5.000 kosakata dari kamus Oxford, lengkap dengan mode belajar yang fleksibel. Ia menambahkan fitur pelafalan ganda—aksen Amerika dan Inggris—serta mode “Dengar & Tulis” untuk melatih pendengaran. Hasilnya bukan sekadar kamus digital, tetapi “paket belajar” yang menyeluruh.
“Jadi, ini bukan sekadar aplikasi kamus biasa, tapi paket lengkap untuk berlatih.”
Keunggulan ini menjadikan aplikasinya tak hanya ramah difabel, tetapi juga kompeten secara akademis.
Meskipun belum tersedia di Google Playstore atau AppStore, Adrian menyediakan cara sederhana untuk mengaksesnya.
“Untuk saat ini, aplikasi saya belum tersedia di Google Playstore atau AppStore karena bentuknya adalah file HTML mandiri. Namun, teman-teman yang ingin mencoba menjalankannya secara offline bisa langsung mengunduhnya melalui tautan berikut: https://bit.ly/AccessibleCEFR”
Aplikasi ini bisa digunakan di laptop, Android, maupun iOS tanpa instalasi rumit. Cukup membuka file HTML pada browser. Adrian mengingatkan agar pengguna membaca file README sebelum menjalankan aplikasinya.
“Pastikan teman-teman sudah membaca file README… agar benar-benar mengerti cara penggunaannya dan bisa memaksimalkan semua fiturnya.”
Ia sadar aplikasi ini masih jauh dari sempurna dan sangat terbuka terhadap kritik.
“Karena aplikasi ini baru saja saya rombak total dari versi awalnya, mungkin teman-teman nanti akan menemukan sedikit bug (red_gangguan) atau hal yang terasa janggal. Saya sangat terbuka soal itu.”
Di akhir wawancara, Adrian menyampaikan harapannya.
“Harapan saya ke depan sederhana. Semakin banyak yang merespon dan memberi masukan, akan membuat saya semakin bersemangat mengembangkan aplikasi ini. Saya ingin melihat masa depan yang inklusif.”
Menurut Adrian inklusivitas adalah nilai moral yang harus diperjuangkan bersama.
“Inklusif itu adalah ketika tak ada lagi jarak antara disabilitas dan nondisabilitas. Semua bisa maju bersama, saling bahu-membahu. Tidak ada yang merasa lebih, tidak ada yang merasa kurang.”
“Bukankah Tuhan Yang Maha Kuasa juga menganggap sama semua hamba-Nya? Yang membedakan hanyalah ketakwaan kita. Semoga aplikasi ini bisa menjadi langkah kecil saya untuk kemajuan kita Bersama,” Katanya menutup wawancara.[]
Reporter : Agus Weda nwan
Editor :Ajiwan








